| |
Sedikit
dari Banyaknya Bukti Kekayaan Sahabat
Kekayaan
Umar bin Khattab ra
• Mewariskan 70.000 properti (ladang pertanian)
seharga @ 160juta (total Rp 11,2 Triliun)
• Cash flow per bulan dari properti = 70.000
x 40 jt = 2,8 Triliun/ tahun atau 233 Miliar/bulan.
• Simpanan = hutang dalam bentuk cash
Kekayaan
Utsman bin ‘Affan ra
• Simpanan uang = 151 ribu dinar plus seribu
dirham
• Mewariskan properti sepanjang wilayah
Aris dan Khaibar
• Beberapa sumur senilai 200 ribu dinar
(Rp 240 M)
Kekayaan
Zubair bin Awwam ra
• 50 ribu dinar
• 1000 ekor kuda perang
• 1000 orang budak
Kekayaan
Amr bin Al-Ash ra
• 300 ribu dinar
Kekayaan
Abdurrahman bin Auf ra
• Melebihi seluruh kekayaan sahabat!!
• Dalam satu kali duduk, pada masa Rasulullah
SAW, Abdurrahman bin Auf berinfaq sebesar 64 Milyar
(40 ribu dinar)
Bukan
hanya sahabat utama yang kaya, namun juga rakyatnya
hidup berkecukupan
Pada masa
Umar bin Khattab ra (10 tahun bertugas),
• Mu’adz bin Jabal menuturkan di Yaman
sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun
yang layak diberi zakat (Al-Amwal, hal 596)
• Mampu menggaji guru di Madinah masing-masing
15 dinar atau +/- 18 juta/bulan (Ash-Shinnawi,
2006)
Pada
masa Umar bin Abdul Azis ra (3 tahun bertugas)
• Yahya bin Sa’id (petugas zakat)
berkata, “Ketika hendak membagikan zakat,
saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar
bin Abdul Azis telah menjadikan setiap individu
rakyat pada waktu itu berkecukupan”. (Ibnu
Abdil Hakam, siroh Umar bin Abdul Azis, hal 59)
• Surat Gubernur Bashrah, “Semua rakyat
hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka
akan menjadi takabbur dan sombong.” (Al-Amwal,
hal 256)
Anda
juga bisa kaya seperti mereka, karena sumber kekayaan
kita -umat Islam- telah ada, hanya tinggal digali! |
|
Assalamu 'alaikum
Wr Wb
Ba'da tahmid was sholawat
Saudaraku seiman..
Menjadi kaya raya adalah
impian semua orang. Sifat Allah Ar-Rozzaq (Maha Memberi
Rizqi), Al-Ghoniy (Maha Kaya) dan Al-Mughniy (Maha Pemberi
Kekayaan) yang ditanamkan kepada manusia menjadikan manusia
ingin menguasai kekayaan. Namun cara manusia mencapainya
memiliki spektrum yang amat panjang. Mulai cara yang halal
sampai yang menjurus kepada kesyirikan.
Pada zaman keemasan Islam
(khoirul qurun), para sahabat Rasulullah SAW menguasai
kekayaan dengan motivasi terbaik mereka, mengabdi kepada
Allah. Dan tentu saja, rizqi yang mereka terima, hanya
yang halal saja. Ciri mereka ada pada keteguhan dan kerja
keras dalam berproduksi, namun sangat hemat dalam konsumsi.
Inilah zuhud yang benar. Bukan dengan ber-miskin ria lalu
melegitimasi kemalasannya dengan baju zuhud.
Dalam sejarah tercatat,
Umar bin Khattab RA ketika wafat meninggalkan ladang pertanian
sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya
sebesar Rp 160 juta (perkiraan konversi ke dalam rupiah).
Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2
Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat
itu menghasilkan Rp 40 juta,
"Berarti
Umar ra mendapatkan passive income sebanyak Rp 2,8 Triliun
setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan!".
(Fikih Ekonomi Umar ra, penerbit Khalifa, hal. 47 &
99, konversi pada saat harga dinar Rp 1,2 juta)
Subhanallah...
Umar ra dalam anjurannya
untuk berproduksi, berkata: "Aku wajibkan kepada
kalian tiga bepergian, yaitu: Haji dan umroh, Jihad dan
usaha untuk mencari rizqi" (idem, hal 48).
Bahkan beliau juga berkata,
"Tidaklah Allah menciptakan kematian yang aku
meninggal dengannya setelah terbunuh dalam jihad yang
lebih aku cintai daripada aku meninggal di antara kedua
kaki untaku ketika berjalan di muka bumi, dalam mencari
sebagian karunia Allah" (idem, hal 42)
Masih banyak atsar Umar
ra yang lain, yang menganjurkan para sahabat untuk gemar
berproduksi. Namun coba kita lihat betapa Umar ra menganggap
dirinya bermewahan jika makan lebih dari dua lauk dalam
satu hidangan... kehidupan konsumsi yang sangat kontras
dengan produksinya.
Dengan prinsip kekayaan
seperti inilah akhirnya para sahabat mampu mencetak para
konglomerat muslim, seperti Abdurrahman bin 'Auf, Utsman
bin Affan, Amru bin Ash, Muawiyyah dan sahabat yang lain
yang telah meraih kekayaan sejatinya.
Lalu,
dimana benang merahnya? dimana sumber kekayaan itu sebenarnya?
bagaimana umat Islam masa kini bisa seperti mereka?
Benang merah yang bisa saya
lihat pada mereka dan ilmu-ilmu kekayaan pada masa kini,
ada pada penguasaan PROPERTI mereka. Ya, PROPERTI. Umar
ra memiliki warisan 70.000 ladang pertanian, Ustman ra
memiliki properti sepanjang wilayah Aris dan Khaibar,
beberapa sumur produktif senilai 240 Miliar. Belum lagi
sahabat yang lain. Mereka semua kaya dari properti...
Maka, kalau boleh saya sarankan
kepada para pengusaha dan pekerja muslim, arahkan strategi
Anda pada properti seperti para sahabat Rasulullah SAW
itu. Bahkan Umar ra selalu menganjurkan kepada para pejabatnya
untuk tidak menghabiskan gajinya untuk konsumsi. Melainkan
disisakan untuk membeli properti. Agar uang mereka tidak
habis hanya untuk dimakan.
Kenapa
harus properti?
1. Karena
sahabat kaya raya lewat properti
2. Karena Allah tidak ciptakan bumi yang kedua, sehingga
harganya makin mahal
3. Karena harga properti naik terus dan tidak fluktuatif
4. Karena properti adalah investasi terbaik dan teraman
5. Karena properti memiliki dua keuntungan : Capital
gain dan cash flow
6. Karena bumi ini harus diwarisi oleh kaum yang taat
kepada Allah saja.
Bisnis berbasis properti
adalah bisnis yang aman, insya Allah. Jika tidak berbasis
properti akan mudah dihancurkan badai. Jadi jika Anda
berbisnis, maka arahkan bisnis itu pada penguasaan properti.
Jika Anda bekerja, maka sisihkan gaji Anda untuk membeli
properti.
Pada masa kini, dengan perbankan
syariah sebagai leverage terbaik dan halal, mampu membuat
kita membeli properti dengan modal yang minim, bahkan
tanpa modal sama sekali.
Saya kan bukan pebisnis?
Saya kan hanya karyawan?
Properti kan harganya mahal?
Dulu
sayapun seperti Anda, punya pertanyaan-pertanyaan seperti
itu.
Dulu saya juga orang
susah! Sempat terkatung-katung di Malaysia, menjadi
tukang cuci (laundry) dengan gaji harian lebih rendah
dari tukang kenek bangunan. Bekerjanya pun takut-takut
dirazia dan ditangkap polisi, karena saya termasuk pekerja
ilegal.
Bahkan untuk dapat fasilitas
hidup saya harus memulung, mengambil barang sisa orang
Malaysia. Alhamdulillah, akhirnya dapat pekerjaan sebagai
asisten peneliti di UTM, Johor Bahru.
Sepulangnya dari Malaysia,
saya mulai merintis usaha, jual keramik dan sanitair.
Pelanggan saya adalah para kontraktor dan arsitek. Hanya
setahun, saya berfikir, enakan jadi kontraktor,
untungnya bukan hanya dari keramik, tapi juga dari kayu,
semen, pasir dan bahan material lain. Akhirnya, saya rubah
usaha menjadi kontraktor kecil-kecilan. Setahun saya ‘hanya’
–alhamdulillah, dapat order 4 rumah. Lalu, saya
berfikir, enak juga kalau jadi developer, mengejar bola.
Akhirnya
saya mulai berkenalan dengan dunia properti.
Properti pertama yang saya
beli adalah tanah seluas 3.000 m2. Sebenarnya saya tidak
beli, tapi kerjasama, modalnya didapat dari salah satu
calon konsumen yang ingin renovasi rumah tapi tidak jadi.
Akhirnya, saya kerjasama dan masuk di dunia properti tanpa
modal, alias modal dengkul, tapi punya bekal kepercayaan
dan kejujuran. Properti yang saya jual, habis terjual.
Kepercayaan orang mulai berdatangan. Satu per satu orang
menitipkan dananya ke saya untuk membeli properti.

Akhirnya kerjasama seperti
itu berulang lagi, berulang lagi, berulang lagi hingga
puluhan kali.
Banyak teman yang bertanya
tentang strategi yang saya terapkan. Lama saya merenung,
merancang ulang, mengkaji beberapa rahasia, menyelami
kejadian-kejadian yang saya alami, bukan hanya secara
fisik, namun juga hal-hal "ajaib" yang terjadi.
Jelas bukan mistik, namun ada nuansa spiritual yang mengikuti
berbagai prestasi yang saya raih. Hal ini bermanfaat untuk
memotivasi banyak orang untuk kembali bangga dengan agamanya.
Hal ini ternyata juga telah dijelaskan secara ilmiah oleh
banyak pengkaji ilmu kesuksesan.
Dengan pengalaman empiris
ini, saya ingin melengkapi semua ilmu yang telah ada,
sekaligus mengarahkan manusia kepada rahasia kejayaan
Islam. Bahwa umat Islam yang pernah menguasai dunia ini
selama tujuh abad pasti punya rahasia kesuksesannya.
Akhirnya,...
saya berhasil mendapatkan formula tentang strategi membangun
kekayaan secara syariah melalui properti yang
sederhana, yang bisa dilakukan semua orang, baik dia
pengusaha, karyawan, atau bahkan pengangguran sekalipun....
Bagaimana pengangguran bisa?
Jawaban saya sederhana atas pertanyaan ini. Saya juga
dulu pengangguran, dan saya bisa, kenapa orang lain tidak
bisa? Dengan langkah optimis, positif thinking, upaya
tak kenal lelah, tanpa harus manipulasi, Allah akan membuka
jalan kesuksesan.
Perkenankan saya
berbagi terlebih dahulu.
Ada sebuah rumah yang
kami beli di tahun 2008. Luas Bangunan 1.400m2, Luas
Tanah 850m2. Harga pasarannya Rp 3 Miliar (pasaran tanah
sekitar Rp 1,5jt/m2 dan bangunan 1,25jt/m2). Karena
pemiliknya butuh uang (ini sifat properti yang bisa
dilikuidkan dengan cara mengorbankan harganya), diapun
menjualnya seharga 1,6 Miliar (berarti kami sudah untung
1,4 M di awal).
Syarat jual beli secara
syariah yaitu antarodhin (sama-sama ridho) terpenuhi,
karena sudah lama sekali bangunan itu mau dijual namun
tidak laku-laku karena propertinya yang besar.
Kemudian, kami ajukan
ke bank syariah, pada waktu itu ada 2 bank yang menyetujuinya,
bank pertama 2,9 M dan bank ke dua 1,84 M. Tetapi kami
ambil yang kedua, karena syaratnya lebih ringan. Akad
kredit pun dilaksanakan dan akhirnya bank syariah yang
bayar properti kami (kelebihan dana Rp 240 juta kami
gunakan untuk pengurusan surat-surat, asuransi, renovasi
dan lain-lain).
Pada saat itu sang pemilik
setuju kami bayar 1 M dulu, tiga bulan kemudian kami
lunasi yang 600juta-nya untuk kami putar di usaha, (tentunya
kami untung lagi, karena dapat modal usaha Rp 600 Juta).
Lalu, ada yang bertanya.
Kan ke bank nya harus nyicil? Ya, rumah itu kini sudah
ada cashflow Rp 11 juta per bulan dari kost-kostan,
tapi belum semua. Kalau dioptimalkan kami hitung-hitung,
bisa dapat penghasilan rata-rata Rp 40 juta. Kami akan
membuka Rumah bersalin, klinik spesialis dan apotik
di atas tanah itu. Cicilan ke bank Rp 28 juta (jadi
tiap bulan kami untung 12 juta).
KESIMPULANNYA:
kami dapat beli rumah itu tanpa uang, dan cicilannya
pun tidak perlu saya khawatirkan karena sudah ada cash
flownya. Dengan satu properti ini saja, saya sudah mencapai
financial freedom dengan passive income.
Kami beli lagi
sebidang tanah, luas tanahnya 6500 m2. Harga
pasaran Rp 2,5 M.. Karena pemiliknya butuh uang untuk
membangun pesantren, diapun menjual tanah tersebut seharga
1,5 M (kami untung di saat beli, 1 M). Kalau ini saya
pakai modal Rp 500 juta, modal ini saya dapat dari perputaran
usaha dan dalam 1,5 bulan sudah balik lagi dari penjualan
tanah itu dalam bentuk dikavling-kavling.
Kami ajukan ke bank syariah,
ternyata diappraise Rp 4 M (kami untung 2,5M hanya dari
tanah), dan bank menyetujui kredit kami sebesar Rp 3
Miliar atas jaminan tanah itu. (Ini strategi kami dapat
modal dari properti)
Rumah dan kantor yang
sekarang kami tempati juga kami dapat dengan strategi
itu. Perumahan-perumahan yang kami buat pun kami lakukan
dengan cara seperti itu… Dan masih ada "puluhan"
properti lain yang sudah kami akuisisi dan beli tanpa
uang saya sendiri.

Dengan semua pencapaian
ini membuat kami menjadi developer dengan brand sendiri,
"The Orchid Realty". Tahun 2008, hanya 2,5 tahun
dari sejak awal bisnis properti saya mulai, The Orchid
Realty dijuluki sebagai "Indonesia's First
Islamic Property Developer" Oleh Metro
TV dalam program Indonesia Now.

Secara berturut-turut, The
Orchid Realty sebagai developer syariah juga diliput oleh
Majalah Sabili, ESQ Magazine dan berbagai publikasi lain,
Alhamdulillah.

Apakah keberhasilan ini bisa diduplikasi dan dijalankan
semua orang? Jawaban saya –TENTU
SAJA BISA!
Saya mencoba
mencari ilmu-ilmu yang bisa menjelaskan tentang hal ini.
Saya baca ratusan buku, bertemu puluhan guru, searching
ribuan halaman di internet, saya juga ikut pelatihan-pelatihan.
Mulai pelatihan bisnis, spiritual, properti, internet,
NLP (Neuro Linguistic Programming) dan lain-lain. Semua
itu saya lakukan agar apa yang saya rasakan juga bisa
dirasakan oleh semua orang, terutama umat Islam.
Dari semua buku yang saya
baca, pelatihan yang saya ikuti, ribuan halaman internet
yang saya gali, akhirnya saya dapatkan sebuah formula
sederhana dalam menggali ilmu yang mampu membuat umat
Islam KAYA RAYA BERMAKNA SECARA SYARIAH MELALUI
PROPERTI.
Formula
ini saya beri nama
spiritualpREneurship,
The Power of Islamic Financial Freedom
spiritualpREneurship
adalah ilmu baru yang saya rumuskan yang semoga menjadi
bagian dari pembuka babak baru era spiritual menggantikan
era kapitalisme dalam dunia bisnis. Semangat saya semakin
terpicu dengan penelitian paling mutakhir tentang masa
depan kepemimpinan bisnis dunia.
Gay
Hendrick,
seorang profesor di Universitas Colorado dan Kate
Ludeman, seorang doktor di bidang psikologi,
menulis sebuah buku berjudul “The
Corporate Mystic”. Sebuah buku yang
dihasilkan dari ribuan jam wawancara dengan ratusan
eksekutif kelas dunia selama hampir 25 tahun.
Mereka
menyatakan dalam bukunya, “Kemungkinan besar
kita akan menemukan para spiritualis sejati
di ruang rapat perusahaan-perusahaan besar
bukan di tempat-tempat ibadah. Para spiritualis ini
mengamalkan nilai-nilai spiritual yang
mereka ajarkan di perusahaannya” kata mereka.
Keduanya
meramalkan bahwa para pengusaha yang sukses pada abad
21 akan menjadi pemimpin spiritual. (ESQ Power, hal
9)
Spiritual yang
saya maksudkan dalam spiritualpREneurship
merujuk pada nilai-nilai murni yang bersumber dari Allah
SWT yang menurunkan syariatnya berupa agama Islam. Nilai
inilah yang telah mampu membuat umat Islam memimpin dunia
selama 7 abad lamanya. Dengan prinsip spiritual inilah
para sahabat dan ulama Islam memperoleh kekayaannya.
Preneurship merujuk
pada sifat gigih, tangguh yang biasa dipraktekkan oleh
para entrepreneur (pengusaha). Namun, ilmu ini bukan hanya
kepada para pengusaha saja, namun juga para karyawan yang
merintis karirnya dengan kesungguhan dan kegigihan, merekalah
para Intrapreneur.
Dua huruf "RE"
selalu saya besarkan dan memiliki warna berbeda dengan
maksud spiritualpREneurship
memiliki visi mengembalikan (RE dalam bahasa inggris artinya
kembali) kekayaan umat manusia sebagaimana pada zaman
sahabat dengan cara yang paling santun dan hikmah (RE
dalam bahasa jepang artinya santun). RE bisa juga berarti
Real Estate.
Maka, secara sederhana spiritualpREneurship
adalah prinsip membangun kekayaan
dan financial freedom dengan prinsip-prinsip
Ketuhanan (Ilahiyah).
Sayapun
memiliki definisi sendiri tentang Islamic Financial
Freedom, yaitu:
"Suatu
kondisi AMAN dari KEUANGAN
sebagai hasil dari proses INVESTASI
yang HALAL dan berkelanjutan
sehingga mampu menjamin DIRI dan KELUARGA
untuk menjalankan tugas hidup di dunia sebagai
KHALIFAH ALLAH dan BERIBADAH
kepada-Nya tanpa rasa TAKUT dan
CEMAS, selama-lamanya sampai bertemu
dengan KEMATIAN dan mampu MEWARISKAN
harta terbaik bagi kelangsungan hidup GENERASI
KEMUDIAN" - Nasrullah
Definisi Islamic
Financial Freedom seperti inilah yang sekarang
sedang saya perjuangkan dan berharap semua orang dapat
meraih kekayaan seperti tujuan di atas.
Saya sampaikan ilmu ini
di masjid-masjid, musholla-musholla, kampus-kampus, sekolah-sekolah,
kantor-kantor, dan di setiap orang yang saya jumpai. Semakin
lama ilmu ini semakin matang. Akhirnya, saya memberanikan
diri untuk membuka seminar dan training tentang spiritualpREneurship.
Subhanallah,
tak disangka, respon masyarakat tentang seminar dan training
ini sangat luar biasa. Ratusan orang merespon dengan baik.
Bahkan nun jauh dari luar kota datang untuk ikut seminar
dan training yang saya adakan di Depok. Mulai dari Pekan
baru, Tasikmalaya, Bogor, Bandung, Jogja, Cirebon, Palu,
Makassar, dan wilayah lain.
Inilah sebagian dari dokumentasi
seminar dan training yang kami adakan.

Sangat banyak yang tercerahkan dengan materi spiritualpREneurship,
inilah beberapa kesaksian mereka:
| |
"30
Tahun saya mencari hikmah kehidupan, hari ini
saya dapatkan" -
Rahmat Fauzi
“Acara
ini luar biasa, menginspirasi kita dalam menjalankan
usaha. Harapan besar semoga bisa menerapkan islamic
financial freedom dan kelanjutan seminar ini dengan
harapan ada jalinan ukhuwah yang kuat” -
Elwan Hafwan
“Seminar
ini merupakan pintu masuk bagi umat Islam untuk
menjadi orang seperti khalifah Umar RA pada era
kekhilafahannya” – Iwan Kurniawan
 |
"Pelatihan
yang benar-benar Islami!"
"Kesan
saya terhadap pelatihan ini, sangat luar
biasa! Saya termasuk orang yang berinvestasi
untuk pelatihan-pelatihan. Saya juga banyak
mengikuti banyak pelatihan, ada pelatihan
pak tungdesem waringin, saya mengikuti program
master break-through-nya. Bukan itu yang
saya banggakan.
Tapi justru
di sinilah saya menemukan pelatihan yang
benar-benar Islami. Saya menemukan yang
saya cari selama ini, bahwa pelatihan ini
mencerahkan saya secara keyakinan, keikhlasan,
bahwa zuhud dan kekayaan itu bukan suatu
yang bertolak belakang dan kita bisa zuhud
dan (disaat yang sama bisa) kaya raya bermakna,
berguna untuk umat dengan cara2 yang halal,
itu yang paling penting.
Karena selama
ini pelatihan di luar selalu menekankan
yang penting kaya, tapi caranya yang memang
kurang baik. Jadi saya menemukan yang saya
cari selama ini. Semoga pelatihan ini berguna
untuk orang lain, saya sangat rekomendasikan"
Aries Permana
|
|
"Ini
Bukan Training, Ini Bongkar Rahasia Perusahaan"
Ini training
pertama yang saya rasakan luar biasa, ini
sebenarnya bukan training tapi ini bongkar
rahasia perusahaan. Dan saya belum pernah
ketemu ada orang yang mau membagi ilmu dan
apa yang dia punya ke sesama muslim…
Jadi ini sebenarnya
bukan training, tapi ini adalah sharing
memberikan semua ilmu yang dimiliki dan
mengajak bergabung agar orang lain ikut
berbahagia. Itulah kesan saya, jadi praktis
bisa insyaa’ Allah diterapkan, bahkan
lebih mudah dari yang saya sangka.
Saya rasa
ini perlu suatu dukungan kita semua. Training
ini paling berkesan bagi saya. Ketiga hal
ada di sini, kematangan emosional, kematangan
intelektual, Dan yang lebih penting adalah
ini tidak lepas dari KEKUATAN SPIRITUAL.
Dan itu yang paling utama yang bagi saya
tujuan utama dari segala usaha kita. -Marnodastrinto
|
 |
"Insya
Allah Saya Mampu Mewujudkan Impian Menjadi
Milyarder Muslim"
Acara ini
sangat luar biasa, dan saya sangat bersyukur
sekali bisa hadir ke tempat ini, saya dapat
ilmu yang sangat bermanfaat dan saya mendapat
keyakinan yang sangat kuat, saya yakin sekali
bahwa ini adalah merupakan karunia Allah
swt untuk saya hadir ke tempat ini dan menjadi
momentum yang sangat tepat untuk saya kemudian
bisa mewujudkan impian saya menjadi seorang
milyader muslim, insyaa’ Allah. Terimakasih
pak Nas. - Muzayyin Arif
|
“Banyak
hal yang saya alami sebelumnya, terjawab dengan
sangat gamblang dan jelas dalam pelatihan ini.
Subhanallah” – Lizzarni
“Saya
bersyukur kehadirat Allah SWT, bahwa selama ini
saya berfikir cendikiawan muslim (karyanya) tidak
sejauh ini. Tapi setelah saya menjalani seminar
ini, saya yakin bahwa bisnis secara “The
Power of Islamic Financial Freedom” yang
dijalankan Orchid Realty, akan lebih menjanjikan
kemajuan dan kemakmuran bagi masa depan Islam,
Insya Allah” – Yudi Setiawan
“Sebuah
seminar yang sangat mencerahkan dan membakar semangat
untuk menjadi milyarder, di atas sunnah nabawiyah”
–
Wido Supraha
“Acaranya
sangat bermanfaat terutama untuk mengingatkan
umat Muslim agar kembali menguasai properti jangan
menjual semaunya sehingga berakibat nantinya kaum
Muslim tidak memiliki tanah lagi dan terusir dari
tanahnya sendiri” – Nilasari
“Subhanallah,
acara ini sangat menarik dan merubah mindset dan
menyadari bahwa banyak hal yang ternyata telah
menghambat kita meraih financial freedom”
– M. Salafuddin
“Sangat bermanfaat
dan berguna sekali kalau bisa lebih banyak lagi
yang ikut. Agar bangsa Indonesia lebih berkah
lagi, lebih baik lagi, lebih diridhai lagi oleh
Allah SWT” – Tedy HSB
“Lebih mendapatkan
pemanfaatan akan spirit hidup yang ada dalam nilai-nilai
islam yang telah di ketahui di spirit bisnis secara
khusus, dan tataran teknis” - Ujang
sunandar
“Acara
ini dahsyat, moga kita jadi hamba yang sukses
dunia akhirat” - Quintanto
S
“Acara ini
bagus sekali. Materinya luar biasa, insyaallah
terbuka dan termotivasi. Saya berharap juga seperti
muslim-mulism lainnya menjadi orang-orang yang
kaya dan soleh” - Eka Trenggana
“Menambah
wawasan/pemahaman terhadap indahnya Islam”
- Heru Purdadi W
“Alhamdulillah
banyak ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat”
- Suvidianto
“Bagus, untuk
membuka paradigma kita dalam mensikapi kehidupan”
- Novy Erlinda
“Dahsyat
dunia akhirat” - Anggiya
“Terus sebarkan
spiritualpreneurship” - Rizqon Ismail
“Sungguh menakjubkan”
- Syukron
|
|
Masih banyak lagi testimoni
dan ucapan syukur telah mengikuti seminar dan training
yang saya adakan. Semoga ini menjadi amal sholeh bagi
semua yang hadir dan juga bagi Anda, yang kini sedang
membaca tulisan ini. Klik disini untuk
jadual seminar dan training
Semakin hari, permintaan
seminar dan training terus berdatangan. Mulai dari Jogja,
Solo, Semarang, Bandung, Bogor, Cikarang, Cilegon, dan
masih banyak lagi. Namun saya sadar, seorang diri saya
tidak mungkin bisa melayani semua permintaan itu, terlebih
lagi bisnis saya terus berjalan dan masih harus dipantau.
Bisnis properti saya dapat dilihat di www.orchid-realty.com
Namun,
ilmu ini harus cepat tersebar, agar umat Islam bisa segera
berdaya.
Maka, saya mencoba mencari
cara terbaik menyebarkan ilmu ini dengan cara yang lebih
mudah, murah dan efisien. Seminar dan training tetap diadakan,
namun bagi mereka yang jauh dari pusat kota atau tidak
dapat mengikuti jadual seminar karena kesibukan tetap
dapat mengakses materi ini.
Pilihan saya adalah menuangkan
semua metode dan modul materi spiritualpREneurship
dalam satu paket sederhana yang berisi film seminar,
materi dan modul yang dikemas dalam bentuk e-book, audiobook
dan materi-materi penunjang spiritualpREneurship
yang disebarluaskan melalui internet.
Modul ini persis seperti
yang saya sampaikan melalui seminar dan training selama
total 3 hari. Saya sertakan VIDEO SEMINAR
berdurasi 7 jam penuh yang dilangsungkan
di auditorium Pusat Studi Jepang, Kampus Universitas Indonesia
(UI), Depok, Jawa Barat, agar semua pihak dapat menerima
ilmunya persis seperti mengikuti seminarnya.
Kenapa
saya menjatuhkan pilihan penyebaran ilmu ini dengan
menggunakan internet?
1.
Semakin luasnya jaringan internet di Indonesia, yang
memungkinkan luasnya daya jelajah distribusi
dan daya serap ilmu ini. Memotong
jalur distribusi konvensional melalui agen-agen media
cetak.
2.
Dengan menggunakan internet, ilmu ini akan semakin sempurna
dengan saran dan masukan dari para pengguna, dan akhirnya
materi spiritualpREneurship bisa diupdate
sewaktu-waktu.
3.
Dengan menggunakan internet, materi ini bukan
hanya berupa tulisan namun dapat ditambahkan
penjelasan berupa audio maupun visual,
hal ini mempermudah penyerapan ilmu.
4.
Dengan menggunakan internet, ilmu ini dapat
dijual kembali oleh para pengguna situs ini
melalui program afiliate marketing dan
mendapatkan manfaat bersama.
5.
Sehingga secara umum, penyebaran ilmu ini via internet
lebih murah, lebih efisien dan sekaligus
memberdayakan.
|